Pasokan BBM Terancam Menipis, China Desak Iran Segera Buka Blokade Selat Hormuz

BEIJING, Inforiksa News. – Krisis energi mulai membayangi Negeri Tirai Bambu. Pemerintah China secara resmi mendesak Iran untuk segera membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz guna menjamin kelancaran pasokan energi global. Langkah ini diambil setelah blokade di jalur vital tersebut mulai berdampak signifikan terhadap cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik China.
Beijing, yang selama ini dikenal sebagai mitra dagang utama Teheran, kini berada dalam posisi sulit akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang melumpuhkan lalu lintas maritim di kawasan tersebut.
Ketergantungan Energi China pada Jalur Selat Hormuz
Bagi China, Selat Hormuz bukan sekadar jalur air biasa, melainkan “urat nadi” ekonomi. Sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, gangguan di selat ini memberikan tekanan hebat pada ketahanan energi nasional mereka.
Fakta Krusial Dampak Blokade bagi China:
- Sumber Pasokan Utama: Sebagian besar impor minyak China dari kawasan Timur Tengah, termasuk hampir seluruh pasokan dari Iran, melewati Selat Hormuz.
- Cadangan BBM Menipis: Laporan internal menunjukkan bahwa jika blokade berlanjut, cadangan strategis BBM China diprediksi hanya mampu bertahan dalam hitungan minggu.
- Kenaikan Biaya Logistik: Pengalihan rute kapal tanker menambah beban biaya operasional dan memicu kenaikan harga komoditas di pasar domestik China.
Diplomasi Beijing: Antara Solidaritas dan Kebutuhan Ekonomi
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri China menekankan pentingnya menjaga navigasi internasional yang aman dan bebas. Meski China sering kali berseberangan dengan kebijakan sanksi AS terhadap Iran, kebutuhan mendesak akan stabilitas pasokan energi memaksa Beijing untuk memberikan tekanan diplomatik kepada Teheran.
“Kami mendesak semua pihak untuk menahan diri dan segera memulihkan stabilitas di Selat Hormuz. Kelancaran perdagangan energi internasional adalah kunci bagi pemulihan ekonomi global,” tulis pernyataan resmi Beijing, Kamis (16/4/2026).
Dampak Global: Ancaman Inflasi dan Krisis Energi Dunia
Blokade yang berlangsung di Selat Hormuz tidak hanya memukul China, tetapi juga memicu efek domino pada skala global. Harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka USD 100 per barel menjadi ancaman nyata bagi inflasi di berbagai negara.
Risiko yang dihadapi ekonomi global:
- Guncangan Pasar Saham: Ketidakpastian pasokan energi membuat investor di bursa global cenderung melakukan aksi jual.
- Krisis Manufaktur: Sektor industri yang bergantung pada energi murah mulai melakukan pengurangan produksi.
- Tekanan pada Negara Berkembang: Negara-negara pengimpor BBM kini harus menghadapi defisit anggaran yang membengkak akibat tingginya harga minyak dunia.
Menanti Langkah Teheran
Desakan China ini menjadi poin krusial dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Sebagai salah satu dari sedikit negara yang memiliki pengaruh besar terhadap Iran, sikap tegas Beijing diharapkan mampu melunakkan posisi Teheran untuk kembali membuka dialog dan mengakhiri blokade yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.
